8/03/2026

CATATAN LAPANGAN

 

CATATAN LAPANGAN

Jalan yang Tidak Pernah Saya Pilih

"Kadang-kadang Tuhan tidak mengubah tujuan hidup kita. Dia hanya mengubah jalan yang harus kita lalui untuk sampai ke sana."

Nama saya Rahmat Hidayat.

Saya lahir pada 8 Januari 1993 di sebuah desa kecil bernama Teluk Durian, Kabupaten Kepulauan Anambas. Sebuah desa yang dikelilingi laut, tempat kehidupan masyarakat bergantung pada musim, ombak, dan angin. Di sanalah saya tumbuh sebagai anak ketiga dari empat bersaudara.

Masa kecil saya tidak berbeda jauh dengan anak-anak kampung lainnya. Saya bermain di pantai, memancing, berlari di kebun, dan mengenal kehidupan sederhana sejak usia dini. Namun jika ada satu hal yang paling diingat orang tentang saya ketika masih kecil, itu bukanlah prestasi.

Saya dikenal sebagai anak yang sangat nakal.

Saya senang mencoba hal-hal yang tidak dilakukan teman-teman lain. Saya berani mengambil risiko, sering melanggar aturan, dan beberapa kali membuat orang tua dipanggil ke sekolah. Bagi guru, saya adalah murid yang sulit diatur. Bagi teman-teman, saya adalah anak yang selalu punya ide-ide nekat.

Saat itu saya tidak pernah berpikir bahwa semua sifat itu suatu hari nanti justru menjadi modal terbesar dalam hidup saya.

Keberanian mengambil keputusan.

Keberanian mencoba sesuatu yang baru.

Keberanian menghadapi risiko.

Hanya saja, waktu itu semuanya muncul dalam bentuk kenakalan.

Tahun 2006

Kenakalan saya mencapai titik yang membuat orang tua mengambil keputusan besar.

Saya harus pindah sekolah dari SMP ke Madrasah Tsanawiyah (MTs).

Bagi seorang remaja, perpindahan itu terasa seperti hukuman. Saya meninggalkan teman-teman, meninggalkan lingkungan yang sudah saya kenal, dan harus memulai semuanya dari awal.

Saya sempat menyalahkan keadaan.

Saya merasa hidup saya sedang dipersulit.

Namun beberapa tahun kemudian saya menyadari bahwa keputusan itu justru menjadi salah satu mukjizat terbesar dalam hidup saya.

Pada tahun itu pemerintah mulai menerapkan sistem Ujian Nasional yang baru. Banyak siswa mengalami kesulitan. Sebagian besar teman-teman saya di sekolah lama tidak berhasil lulus.

Sementara saya, yang saat itu sudah berada di MTs, dinyatakan lulus.

Hari itu saya mulai percaya bahwa tidak semua kejadian yang menyakitkan adalah musibah.

Kadang-kadang Tuhan sedang memindahkan kita ke tempat yang lebih baik, meskipun saat itu kita belum memahami alasannya.

Peristiwa itu menjadi awal dari keyakinan saya bahwa ada doa orang tua yang selalu bekerja di belakang kehidupan saya.

Saya sering berpikir, mungkin ketika saya sedang membuat masalah di luar rumah, ibu saya sedang berdoa agar saya tetap diselamatkan.

Dan mungkin Tuhan lebih mendengar doa seorang ibu daripada semua rencana yang saya buat sendiri.

Tahun 2011

Setelah lulus SMA, saya memutuskan melanjutkan pendidikan ke Yogyakarta.

Saya diterima di Jurusan Teknologi Pangan, INSTIPER Yogyakarta.

Bagi seorang anak desa yang belum pernah hidup jauh dari keluarga, merantau adalah pengalaman yang luar biasa. Saya belajar hidup mandiri, belajar bertahan, sekaligus mulai membangun mimpi.

Selama empat tahun saya menyelesaikan pendidikan dengan IPK 3,20 dan lulus tepat waktu.

Saat itu saya sudah memiliki gambaran tentang masa depan.

Saya ingin bekerja di perusahaan besar, terutama perusahaan perkebunan sawit atau karet di Kalimantan maupun Pulau Jawa. Saya membayangkan suatu hari nanti bisa menjadi seorang manajer yang membangun karier dari bawah.

Saya ingin membuktikan bahwa anak kampung juga mampu bersaing.

Namun kehidupan kembali mengubah arah.

Tahun 2015

Ketika saya pulang setelah wisuda, orang tua meminta saya tetap berada di kampung halaman.

Harapan mereka sederhana.

Menjadi Pegawai Tidak Tetap (PTT), kemudian mengikuti seleksi CPNS, memiliki pekerjaan tetap, hidup tenang, dan mengabdi kepada daerah sendiri.

Bagi banyak keluarga, jalan itu adalah lambang keberhasilan.

Namun bagi saya, keputusan itu sangat berat.

Saya harus mengubur mimpi yang sudah saya bangun selama kuliah.

Saya harus melepaskan keinginan untuk bekerja di perusahaan.

Saya harus memilih antara mengejar cita-cita atau membahagiakan orang tua.

Pada akhirnya saya memilih pulang.

Bukan karena mimpi saya berubah.

Tetapi karena saya percaya bahwa berbakti kepada orang tua juga merupakan bagian dari perjalanan hidup yang harus saya jalani.

Meski demikian, jalan yang saya bayangkan ternyata tidak semudah yang saya kira.

Saya tidak langsung menjadi PTT.

Saya justru bergabung dengan Koperasi Bintang Anambas yang saat itu menjalankan berbagai program bantuan sosial dan kemanusiaan.

Selama hampir dua tahun saya belajar satu hal yang belum pernah diajarkan di kampus.

Bahwa membantu masyarakat tidak cukup hanya dengan ilmu.

Kita harus memahami manusia.

Tahun 2016–2018

Pada tahun 2016 saya diterima bekerja di kantor desa sebagai Kepala Urusan Pembangunan.

Di sinilah saya mulai mengenal wajah asli pembangunan.

Di atas kertas, membangun desa terlihat sederhana.

Namun di lapangan, setiap keputusan selalu berkaitan dengan harapan masyarakat.

Siapa yang bekerja.

Siapa yang belum bekerja.

Siapa yang lebih berhak.

Siapa yang merasa diabaikan.

Saya belajar bahwa pembangunan bukan hanya soal membangun jalan atau gedung.

Pembangunan adalah seni menjaga rasa keadilan.

Sering kali saya harus mengambil keputusan yang tidak menyenangkan semua pihak.

Di sinilah saya mulai belajar membaca karakter masyarakat.

Saya belajar bahwa setiap orang memiliki kepentingan.

Setiap keluarga memiliki harapan.

Dan setiap keputusan selalu memiliki konsekuensi.

Pelajaran itu kelak menjadi bekal terbesar dalam perjalanan hidup saya berikutnya.

Tahun 2018–2019

Pada akhir tahun 2018 saya memutuskan mengundurkan diri dari kantor desa.

Banyak orang menganggap keputusan itu terlalu berani.

Namun saya kembali mengikuti kata hati.

Saya menerima tawaran menjadi konsultan pertanian di Yayasan Anambas dengan penempatan di Desa Telaga Besar.

Wilayah itu hanya bisa ditempuh menggunakan pompong.

Laut jauh lebih luas daripada daratan.

Mayoritas masyarakat bekerja sebagai nelayan.

Di sana saya tidak datang untuk mengubah mereka menjadi petani.

Saya datang untuk membantu mereka memiliki sumber penghasilan cadangan ketika musim angin membuat mereka tidak bisa melaut.

Di situlah saya mulai memahami bahwa sebuah program tidak boleh melawan budaya masyarakat.

Program harus mengikuti kehidupan masyarakat.

Bukan sebaliknya.

Pelajaran sederhana itu menjadi dasar dari seluruh pendekatan yang saya gunakan hingga hari ini.

Namun pada akhir tahun 2019, ketika anak pertama saya lahir, saya mengambil keputusan yang kembali mengubah arah hidup.

Saya mengundurkan diri.

Saya memilih pulang.

Saya memilih menjadi ayah.

Saya percaya bahwa tidak semua keberanian adalah tentang bertahan.

Kadang keberanian terbesar adalah mengetahui kapan kita harus berhenti.

Saya tidak pernah menyangka bahwa keputusan itu justru membawa saya memasuki masa paling berat dalam hidup.

Masa ketika saya harus belajar bertahan, bukan hanya sebagai seorang pekerja, tetapi sebagai seorang suami, ayah, dan kepala keluarga.

Perjuangan yang sesungguhnya baru saja dimulai...

 

Belajar Mengikuti Irama Laut

Selama hampir satu tahun mendampingi masyarakat di Telaga Besar, saya merasa seperti kembali menjadi murid. Bukan murid di ruang kelas, melainkan murid kehidupan.

Saya datang membawa ilmu pertanian yang saya pelajari di bangku kuliah. Saya datang dengan semangat untuk membantu masyarakat memiliki mata pencaharian tambahan. Dalam pikiran saya saat itu, yang terpenting adalah bagaimana program dapat segera berjalan dan menghasilkan.

Namun kenyataan di lapangan mengajarkan sesuatu yang sama sekali berbeda.

Saya menyadari bahwa saya tidak sedang bekerja di sebuah kota. Saya tidak sedang mendampingi masyarakat yang memiliki jam kerja tetap dari pagi hingga sore. Saya berada di wilayah kepulauan, tempat kehidupan masyarakat diatur oleh laut.

Di Anambas, laut bukan sekadar hamparan air yang mengelilingi pulau. Laut adalah tempat orang mencari nafkah. Laut adalah pasar, kantor, sawah, dan ladang bagi sebagian besar keluarga. Ketika laut bersahabat, nelayan berangkat sejak dini hari dan baru kembali ketika matahari mulai condong ke barat. Ketika musim ikan tiba, mereka akan memanfaatkan setiap kesempatan karena mereka tahu musim itu tidak datang setiap saat.

Sebaliknya, ketika angin utara bertiup kencang, ombak meninggi, dan cuaca memburuk, laut berubah menjadi ancaman. Hampir setiap tahun masyarakat mendengar kabar tentang kapal yang tenggelam, nelayan yang hilang, atau keluarga yang menunggu dengan cemas anggota keluarganya pulang dari laut. Bagi masyarakat luar, berita itu mungkin hanya menjadi satu kolom kecil di media. Namun bagi kami yang hidup di kepulauan, setiap berita seperti itu terasa sangat dekat. Korbannya bisa saja saudara, tetangga, atau sahabat sendiri.

Pengalaman itulah yang perlahan mengubah cara saya memandang sebuah program pemberdayaan.

Saya mulai memahami bahwa tujuan program bukan sekadar memberikan keterampilan baru kepada masyarakat. Tujuan yang lebih besar adalah membantu mereka memiliki pilihan hidup yang lebih aman tanpa harus meninggalkan identitas mereka sebagai nelayan.

Saya tidak pernah memiliki keinginan untuk mengubah nelayan menjadi petani sepenuhnya.

Itu bukan tujuan saya.

Laut telah menjadi bagian dari kehidupan mereka selama bergenerasi. Pengetahuan mereka tentang angin, arus, pasang surut, dan musim adalah warisan yang tidak bisa digantikan begitu saja.

Yang ingin kami bangun adalah mata pencaharian pelengkap, bukan mata pencaharian pengganti.

Ketika laut tidak bersahabat, mereka tetap memiliki sumber penghasilan.

Ketika cuaca ekstrem memaksa mereka tinggal di rumah, dapur keluarga tetap mengepul.

Ketika musim paceklik datang, anak-anak mereka tetap bisa bersekolah tanpa harus bergantung sepenuhnya pada hasil tangkapan laut.

Dari sanalah saya menyadari bahwa keberhasilan sebuah program di wilayah kepulauan tidak ditentukan oleh seberapa hebat konsepnya, tetapi oleh seberapa jauh program itu mampu mengikuti irama kehidupan masyarakat.

Program tidak boleh memaksa masyarakat meninggalkan pekerjaan utamanya.

Program justru harus hadir untuk mengisi ruang kosong yang selama ini menjadi kelemahan mereka.

Karena itu, setiap kali menyusun kegiatan, saya selalu bertanya kepada diri sendiri.

Apakah waktu pelaksanaannya sesuai dengan musim melaut?

Apakah masyarakat benar-benar memiliki waktu untuk mengikuti kegiatan ini?

Apakah program ini akan mengurangi penghasilan mereka, atau justru menambahnya?

Pertanyaan-pertanyaan sederhana itu sering kali lebih penting daripada laporan yang rapi atau target yang tinggi.

Saya juga belajar bahwa masyarakat kepulauan tidak membutuhkan program yang hanya ramai pada saat peluncuran, lalu menghilang beberapa bulan kemudian.

Mereka membutuhkan program yang mampu bertahan mengikuti perubahan musim.

Program yang tetap berjalan ketika angin berubah arah.

Program yang tetap memberi manfaat ketika ombak sedang tinggi.

Program yang mampu menjadi penyangga ekonomi keluarga saat laut tidak lagi dapat diandalkan.

Pengalaman inilah yang kemudian menjadi dasar ketika saya mendampingi pengembangan bank sampah, pertanian rumah tangga, hingga Program Integrated Waste Management (IWM).

Semuanya dirancang bukan untuk melawan kehidupan masyarakat, melainkan untuk berjalan berdampingan dengan kehidupan mereka.

Saya percaya bahwa pembangunan yang berhasil bukanlah pembangunan yang memaksa masyarakat menyesuaikan diri dengan program.

Sebaliknya, pembangunan yang berhasil adalah ketika program mampu menyesuaikan diri dengan kehidupan masyarakat.

Pelajaran itu tidak saya temukan di dalam buku.

Saya menemukannya di atas pompong yang membelah laut, di beranda rumah-rumah kayu tempat saya berbincang hingga larut malam dengan para nelayan, dan dari wajah-wajah para ibu yang berharap suaminya pulang dengan selamat setiap kali cuaca berubah.

Sejak saat itu saya memahami bahwa membangun masyarakat kepulauan bukan hanya soal menyusun kegiatan.

Membangun masyarakat kepulauan berarti memahami laut, menghormati musim, membaca budaya, dan menghadirkan harapan baru tanpa mencabut akar kehidupan yang telah mereka warisi selama puluhan bahkan ratusan tahun.

Itulah sebabnya setiap program yang saya jalankan selalu saya mulai dengan satu langkah yang paling sederhana: mendengarkan masyarakat terlebih dahulu.

Karena bagi saya, masyarakat bukanlah objek pembangunan.

Merekalah guru yang mengajarkan bagaimana sebuah program seharusnya dibangun.

Membangun Program Bukan Sekadar Membawa Anggaran

Setelah bertahun-tahun hidup bersama masyarakat, saya akhirnya memahami satu kenyataan yang tidak pernah saya pelajari di bangku kuliah.

Program yang baik belum tentu berhasil.

Sebaliknya, program yang sederhana justru bisa bertahan bertahun-tahun apabila dibangun dengan cara yang benar.

Di lapangan, keberhasilan sebuah program tidak diukur dari besarnya anggaran, banyaknya kegiatan, atau tebalnya laporan yang disusun. Tolak ukur yang sebenarnya adalah ketika masyarakat merasa memiliki program tersebut dan tetap menjalankannya meskipun pembawa program telah pergi.

Itulah keberhasilan yang sesungguhnya.

Selama mendampingi masyarakat di berbagai desa kepulauan, saya belajar bahwa tugas seorang fasilitator bukan sekadar menyampaikan kegiatan. Tugas kami jauh lebih besar, yaitu membangun kepercayaan.

Kepercayaan adalah modal utama.

Tanpa kepercayaan, program sebesar apa pun hanya akan menjadi kegiatan sesaat.

Sebaliknya, ketika masyarakat telah percaya, program dengan anggaran yang terbatas pun mampu tumbuh menjadi gerakan yang besar.

Saya memahami mengapa pada awal kedatangan kami masyarakat sering bersikap dingin, bahkan terkadang menolak. Mereka bukan tidak ingin berubah. Mereka hanya sudah terlalu sering dikecewakan.

Sebelum kami datang, sudah banyak program yang masuk ke desa. Semuanya membawa janji yang terdengar indah. Ada yang menjanjikan peningkatan ekonomi, kesejahteraan, bahkan perubahan besar bagi desa. Namun ketika program selesai, para pembawanya pergi. Masyarakat kembali menjalani kehidupan seperti semula, sementara harapan yang pernah ditanamkan perlahan berubah menjadi kekecewaan.

Dari situlah saya belajar bahwa masyarakat kepulauan tidak mudah percaya kepada orang baru. Mereka tidak lagi menilai seseorang dari kata-katanya, tetapi dari konsistensinya.

Kepercayaan tidak dibangun dalam satu kali pertemuan.

Kepercayaan dibangun melalui kehadiran.

Melalui kesediaan duduk bersama mereka.

Melalui kesabaran mendengarkan.

Melalui keberanian menerima kritik.

Dan melalui bukti bahwa kita benar-benar ingin tumbuh bersama masyarakat, bukan sekadar menyelesaikan target program.

Kesalahan lain yang sering saya temui adalah banyak program disusun tanpa memahami kebutuhan masyarakat. Program datang dengan konsep yang sudah jadi, sementara masyarakat hanya diminta mengikuti.

Padahal setiap desa memiliki karakter yang berbeda.

Terlebih lagi di wilayah kepulauan seperti Anambas.

Mayoritas masyarakat hidup sebagai nelayan. Kehidupan mereka sangat dipengaruhi oleh musim, cuaca, arah angin, dan kondisi laut. Ketika musim teduh, mereka lebih banyak berada di laut. Ketika musim angin utara datang, mereka lebih banyak berada di darat.

Jika jadwal program tidak menyesuaikan siklus kehidupan masyarakat, maka program akan dianggap mengganggu mata pencaharian mereka.

Bukan karena masyarakat menolak perubahan, tetapi karena waktu yang dipilih tidak sesuai dengan kehidupan mereka.

Pelajaran berikutnya adalah tentang sumber daya manusia.

Saya sering melihat sebuah program memiliki konsep yang luar biasa, tetapi gagal karena tidak ada orang yang mampu menjalankannya.

Program tidak cukup hanya tepat sasaran.

Program juga harus memiliki orang yang tepat.

Sumber daya manusia adalah jantung dari setiap perubahan.

Karena itu, sebelum berbicara tentang target, indikator, atau capaian, saya selalu berusaha memetakan siapa saja yang memiliki kemauan belajar, siapa yang memiliki pengaruh di masyarakat, siapa yang mampu menjadi contoh, dan siapa yang kelak dapat melanjutkan program tanpa bergantung kepada fasilitator.

Inilah yang kemudian saya terapkan dalam Program Integrated Waste Management (IWM) di Kepulauan Anambas.

Kami tidak memulai dari mesin.

Kami tidak memulai dari bangunan.

Kami memulai dari manusianya.

Kami membangun kelompok.

Kami membangun rasa memiliki.

Kami membangun kebiasaan.

Barulah setelah itu program berkembang dengan sendirinya.

Tujuan terbesar kami bukan menciptakan ketergantungan kepada yayasan.

Justru sebaliknya.

Keberhasilan terbesar adalah ketika masyarakat mampu menjalankan program secara mandiri setelah kami tidak lagi mendampingi mereka.

Itulah alasan mengapa setiap kegiatan selalu diarahkan agar dapat diteruskan oleh masyarakat dan pemerintah desa.

Sebab sebuah program yang hanya hidup selama pendamping berada di lokasi bukanlah pembangunan.

Itu hanya kegiatan sementara.

Selama mendampingi masyarakat, saya juga belajar untuk tidak takut menghadapi kritik.

Banyak orang menganggap peserta rapat yang paling vokal, paling keras, dan paling sering menolak sebagai penghambat.

Saya justru melihat mereka sebagai sumber informasi yang paling berharga.

Orang yang paling keras biasanya adalah orang yang paling banyak menyimpan kekecewaan.

Mereka pernah dijanjikan.

Mereka pernah berharap.

Mereka pernah percaya.

Lalu mereka pernah ditinggalkan.

Apabila kita mampu mendengarkan mereka tanpa emosi, sesungguhnya mereka sedang menunjukkan di mana letak kesalahan program-program sebelumnya.

Mereka sedang memperingatkan kita agar tidak mengulang kegagalan yang sama.

Karena itu saya tidak pernah memusuhi para pengkritik.

Saya justru mendekati mereka.

Saya mendengarkan cerita mereka.

Saya mencari tahu mengapa mereka bersikap demikian.

Dari merekalah saya sering menemukan celah untuk memperbaiki pendekatan program.

Di setiap desa juga selalu ada tokoh yang menjadi rujukan masyarakat.

Mungkin bukan pejabat.

Mungkin bukan orang yang memiliki jabatan formal.

Namun ucapannya didengar oleh masyarakat.

Tokoh seperti inilah yang harus lebih dahulu kita pahami.

Selain kepala desa, mereka sering kali menjadi jembatan penting untuk memahami budaya, kebiasaan, serta persoalan yang tidak pernah tertulis dalam laporan resmi.

Mereka membantu kita membaca apa yang sebenarnya dirasakan masyarakat.

Ada satu tantangan yang hampir selalu muncul di setiap desa.

Masyarakat sering menganggap pembawa program sebagai pemberi bantuan.

Mereka berharap setiap pertemuan membawa uang, bantuan, atau proyek baru.

Padahal tidak semua perubahan harus dimulai dari bantuan.

Sering kali perubahan dimulai dari perubahan cara berpikir.

Mengubah pola pikir jauh lebih sulit daripada membangun sebuah gedung.

Namun ketika pola pikir telah berubah, masyarakat akan mampu membangun banyak hal dengan kekuatan mereka sendiri.

Selama menjalankan Program IWM, saya melihat sendiri bagaimana masyarakat tetap bertahan mengelola bank sampah meskipun insentif yang mereka terima tidak besar.

Mereka bertahan bukan karena nilai uangnya.

Mereka bertahan karena mereka percaya.

Percaya bahwa lingkungan yang bersih akan memberi kehidupan yang lebih baik.

Percaya bahwa sampah memiliki nilai ekonomi.

Percaya bahwa apa yang mereka lakukan hari ini adalah investasi untuk anak dan cucu mereka di masa depan.

Kepercayaan seperti itulah yang sebenarnya menjadi fondasi pembangunan masyarakat.

Pada akhirnya saya menyadari bahwa tidak ada rumus yang benar-benar baku dalam membangun sebuah program.

Tidak ada jalan pintas.

Tidak ada metode yang selalu berhasil di setiap tempat.

Yang ada hanyalah pengalaman, kesabaran, kemampuan mendengar, kemauan untuk belajar dari masyarakat, dan keberanian untuk menyesuaikan diri dengan budaya setempat.

Bagi saya, seorang fasilitator bukanlah orang yang datang membawa semua jawaban.

Seorang fasilitator adalah orang yang mampu menemukan jawaban bersama masyarakat.

Itulah pelajaran terbesar yang saya dapatkan selama bertahun-tahun hidup di tengah masyarakat kepulauan.

Dan saya percaya, selama kita datang dengan niat yang tulus, menghargai budaya, memahami karakter masyarakat, serta membangun kepercayaan sebelum menjalankan program, maka perubahan akan selalu menemukan jalannya.

Mungkin tidak cepat.

Namun perubahan itu akan bertahan jauh lebih lama daripada sekadar keberhasilan yang lahir dari sebuah proyek.