CATATAN LAPANGAN
Jalan yang Tidak Pernah Saya
Pilih
"Kadang-kadang Tuhan
tidak mengubah tujuan hidup kita. Dia hanya mengubah jalan yang harus kita
lalui untuk sampai ke sana."
Nama saya Rahmat Hidayat.
Saya lahir pada 8 Januari 1993
di sebuah desa kecil bernama Teluk Durian, Kabupaten Kepulauan Anambas.
Sebuah desa yang dikelilingi laut, tempat kehidupan masyarakat bergantung pada
musim, ombak, dan angin. Di sanalah saya tumbuh sebagai anak ketiga dari empat
bersaudara.
Masa kecil saya tidak berbeda jauh
dengan anak-anak kampung lainnya. Saya bermain di pantai, memancing, berlari di
kebun, dan mengenal kehidupan sederhana sejak usia dini. Namun jika ada satu
hal yang paling diingat orang tentang saya ketika masih kecil, itu bukanlah
prestasi.
Saya dikenal sebagai anak yang
sangat nakal.
Saya senang mencoba hal-hal yang
tidak dilakukan teman-teman lain. Saya berani mengambil risiko, sering
melanggar aturan, dan beberapa kali membuat orang tua dipanggil ke sekolah.
Bagi guru, saya adalah murid yang sulit diatur. Bagi teman-teman, saya adalah
anak yang selalu punya ide-ide nekat.
Saat itu saya tidak pernah
berpikir bahwa semua sifat itu suatu hari nanti justru menjadi modal terbesar
dalam hidup saya.
Keberanian mengambil keputusan.
Keberanian mencoba sesuatu yang
baru.
Keberanian menghadapi risiko.
Hanya saja, waktu itu semuanya
muncul dalam bentuk kenakalan.
Tahun 2006
Kenakalan saya mencapai titik
yang membuat orang tua mengambil keputusan besar.
Saya harus pindah sekolah dari
SMP ke Madrasah Tsanawiyah (MTs).
Bagi seorang remaja, perpindahan
itu terasa seperti hukuman. Saya meninggalkan teman-teman, meninggalkan
lingkungan yang sudah saya kenal, dan harus memulai semuanya dari awal.
Saya sempat menyalahkan keadaan.
Saya merasa hidup saya sedang
dipersulit.
Namun beberapa tahun kemudian
saya menyadari bahwa keputusan itu justru menjadi salah satu mukjizat terbesar
dalam hidup saya.
Pada tahun itu pemerintah mulai
menerapkan sistem Ujian Nasional yang baru. Banyak siswa mengalami kesulitan.
Sebagian besar teman-teman saya di sekolah lama tidak berhasil lulus.
Sementara saya, yang saat itu
sudah berada di MTs, dinyatakan lulus.
Hari itu saya mulai percaya bahwa
tidak semua kejadian yang menyakitkan adalah musibah.
Kadang-kadang Tuhan sedang
memindahkan kita ke tempat yang lebih baik, meskipun saat itu kita belum
memahami alasannya.
Peristiwa itu menjadi awal dari
keyakinan saya bahwa ada doa orang tua yang selalu bekerja di belakang
kehidupan saya.
Saya sering berpikir, mungkin
ketika saya sedang membuat masalah di luar rumah, ibu saya sedang berdoa agar
saya tetap diselamatkan.
Dan mungkin Tuhan lebih mendengar
doa seorang ibu daripada semua rencana yang saya buat sendiri.
Tahun 2011
Setelah lulus SMA, saya
memutuskan melanjutkan pendidikan ke Yogyakarta.
Saya diterima di Jurusan
Teknologi Pangan, INSTIPER Yogyakarta.
Bagi seorang anak desa yang belum
pernah hidup jauh dari keluarga, merantau adalah pengalaman yang luar biasa.
Saya belajar hidup mandiri, belajar bertahan, sekaligus mulai membangun mimpi.
Selama empat tahun saya
menyelesaikan pendidikan dengan IPK 3,20 dan lulus tepat waktu.
Saat itu saya sudah memiliki
gambaran tentang masa depan.
Saya ingin bekerja di perusahaan
besar, terutama perusahaan perkebunan sawit atau karet di Kalimantan maupun
Pulau Jawa. Saya membayangkan suatu hari nanti bisa menjadi seorang manajer
yang membangun karier dari bawah.
Saya ingin membuktikan bahwa anak
kampung juga mampu bersaing.
Namun kehidupan kembali mengubah
arah.
Tahun 2015
Ketika saya pulang setelah wisuda,
orang tua meminta saya tetap berada di kampung halaman.
Harapan mereka sederhana.
Menjadi Pegawai Tidak Tetap
(PTT), kemudian mengikuti seleksi CPNS, memiliki pekerjaan tetap, hidup tenang,
dan mengabdi kepada daerah sendiri.
Bagi banyak keluarga, jalan itu
adalah lambang keberhasilan.
Namun bagi saya, keputusan itu
sangat berat.
Saya harus mengubur mimpi yang
sudah saya bangun selama kuliah.
Saya harus melepaskan keinginan
untuk bekerja di perusahaan.
Saya harus memilih antara
mengejar cita-cita atau membahagiakan orang tua.
Pada akhirnya saya memilih
pulang.
Bukan karena mimpi saya berubah.
Tetapi karena saya percaya bahwa
berbakti kepada orang tua juga merupakan bagian dari perjalanan hidup yang
harus saya jalani.
Meski demikian, jalan yang saya
bayangkan ternyata tidak semudah yang saya kira.
Saya tidak langsung menjadi PTT.
Saya justru bergabung dengan
Koperasi Bintang Anambas yang saat itu menjalankan berbagai program bantuan
sosial dan kemanusiaan.
Selama hampir dua tahun saya
belajar satu hal yang belum pernah diajarkan di kampus.
Bahwa membantu masyarakat tidak
cukup hanya dengan ilmu.
Kita harus memahami manusia.
Tahun 2016–2018
Pada tahun 2016 saya diterima
bekerja di kantor desa sebagai Kepala Urusan Pembangunan.
Di sinilah saya mulai mengenal
wajah asli pembangunan.
Di atas kertas, membangun desa
terlihat sederhana.
Namun di lapangan, setiap
keputusan selalu berkaitan dengan harapan masyarakat.
Siapa yang bekerja.
Siapa yang belum bekerja.
Siapa yang lebih berhak.
Siapa yang merasa diabaikan.
Saya belajar bahwa pembangunan
bukan hanya soal membangun jalan atau gedung.
Pembangunan adalah seni menjaga
rasa keadilan.
Sering kali saya harus mengambil
keputusan yang tidak menyenangkan semua pihak.
Di sinilah saya mulai belajar
membaca karakter masyarakat.
Saya belajar bahwa setiap orang
memiliki kepentingan.
Setiap keluarga memiliki harapan.
Dan setiap keputusan selalu
memiliki konsekuensi.
Pelajaran itu kelak menjadi bekal
terbesar dalam perjalanan hidup saya berikutnya.
Tahun 2018–2019
Pada akhir tahun 2018 saya
memutuskan mengundurkan diri dari kantor desa.
Banyak orang menganggap keputusan
itu terlalu berani.
Namun saya kembali mengikuti kata
hati.
Saya menerima tawaran menjadi
konsultan pertanian di Yayasan Anambas dengan penempatan di Desa Telaga Besar.
Wilayah itu hanya bisa ditempuh
menggunakan pompong.
Laut jauh lebih luas daripada
daratan.
Mayoritas masyarakat bekerja
sebagai nelayan.
Di sana saya tidak datang untuk
mengubah mereka menjadi petani.
Saya datang untuk membantu mereka
memiliki sumber penghasilan cadangan ketika musim angin membuat mereka tidak
bisa melaut.
Di situlah saya mulai memahami
bahwa sebuah program tidak boleh melawan budaya masyarakat.
Program harus mengikuti kehidupan
masyarakat.
Bukan sebaliknya.
Pelajaran sederhana itu menjadi
dasar dari seluruh pendekatan yang saya gunakan hingga hari ini.
Namun pada akhir tahun 2019,
ketika anak pertama saya lahir, saya mengambil keputusan yang kembali mengubah
arah hidup.
Saya mengundurkan diri.
Saya memilih pulang.
Saya memilih menjadi ayah.
Saya percaya bahwa tidak semua
keberanian adalah tentang bertahan.
Kadang keberanian terbesar adalah
mengetahui kapan kita harus berhenti.
Saya tidak pernah menyangka bahwa
keputusan itu justru membawa saya memasuki masa paling berat dalam hidup.
Masa ketika saya harus belajar
bertahan, bukan hanya sebagai seorang pekerja, tetapi sebagai seorang suami,
ayah, dan kepala keluarga.
Perjuangan yang sesungguhnya baru
saja dimulai...
Belajar Mengikuti Irama Laut
Selama hampir satu tahun
mendampingi masyarakat di Telaga Besar, saya merasa seperti kembali menjadi
murid. Bukan murid di ruang kelas, melainkan murid kehidupan.
Saya datang membawa ilmu
pertanian yang saya pelajari di bangku kuliah. Saya datang dengan semangat
untuk membantu masyarakat memiliki mata pencaharian tambahan. Dalam pikiran
saya saat itu, yang terpenting adalah bagaimana program dapat segera berjalan dan
menghasilkan.
Namun kenyataan di lapangan
mengajarkan sesuatu yang sama sekali berbeda.
Saya menyadari bahwa saya tidak
sedang bekerja di sebuah kota. Saya tidak sedang mendampingi masyarakat yang
memiliki jam kerja tetap dari pagi hingga sore. Saya berada di wilayah
kepulauan, tempat kehidupan masyarakat diatur oleh laut.
Di Anambas, laut bukan sekadar
hamparan air yang mengelilingi pulau. Laut adalah tempat orang mencari nafkah.
Laut adalah pasar, kantor, sawah, dan ladang bagi sebagian besar keluarga.
Ketika laut bersahabat, nelayan berangkat sejak dini hari dan baru kembali
ketika matahari mulai condong ke barat. Ketika musim ikan tiba, mereka akan
memanfaatkan setiap kesempatan karena mereka tahu musim itu tidak datang setiap
saat.
Sebaliknya, ketika angin utara
bertiup kencang, ombak meninggi, dan cuaca memburuk, laut berubah menjadi
ancaman. Hampir setiap tahun masyarakat mendengar kabar tentang kapal yang
tenggelam, nelayan yang hilang, atau keluarga yang menunggu dengan cemas anggota
keluarganya pulang dari laut. Bagi masyarakat luar, berita itu mungkin hanya
menjadi satu kolom kecil di media. Namun bagi kami yang hidup di kepulauan,
setiap berita seperti itu terasa sangat dekat. Korbannya bisa saja saudara,
tetangga, atau sahabat sendiri.
Pengalaman itulah yang perlahan
mengubah cara saya memandang sebuah program pemberdayaan.
Saya mulai memahami bahwa tujuan
program bukan sekadar memberikan keterampilan baru kepada masyarakat. Tujuan
yang lebih besar adalah membantu mereka memiliki pilihan hidup yang lebih aman
tanpa harus meninggalkan identitas mereka sebagai nelayan.
Saya tidak pernah memiliki keinginan
untuk mengubah nelayan menjadi petani sepenuhnya.
Itu bukan tujuan saya.
Laut telah menjadi bagian dari
kehidupan mereka selama bergenerasi. Pengetahuan mereka tentang angin, arus,
pasang surut, dan musim adalah warisan yang tidak bisa digantikan begitu saja.
Yang ingin kami bangun adalah mata
pencaharian pelengkap, bukan mata pencaharian pengganti.
Ketika laut tidak bersahabat,
mereka tetap memiliki sumber penghasilan.
Ketika cuaca ekstrem memaksa
mereka tinggal di rumah, dapur keluarga tetap mengepul.
Ketika musim paceklik datang,
anak-anak mereka tetap bisa bersekolah tanpa harus bergantung sepenuhnya pada
hasil tangkapan laut.
Dari sanalah saya menyadari
bahwa keberhasilan sebuah program di wilayah kepulauan tidak ditentukan oleh
seberapa hebat konsepnya, tetapi oleh seberapa jauh program itu mampu mengikuti
irama kehidupan masyarakat.
Program tidak boleh memaksa
masyarakat meninggalkan pekerjaan utamanya.
Program justru harus hadir untuk
mengisi ruang kosong yang selama ini menjadi kelemahan mereka.
Karena itu, setiap kali menyusun
kegiatan, saya selalu bertanya kepada diri sendiri.
Apakah waktu pelaksanaannya
sesuai dengan musim melaut?
Apakah masyarakat benar-benar
memiliki waktu untuk mengikuti kegiatan ini?
Apakah program ini akan
mengurangi penghasilan mereka, atau justru menambahnya?
Pertanyaan-pertanyaan sederhana
itu sering kali lebih penting daripada laporan yang rapi atau target yang
tinggi.
Saya juga belajar bahwa
masyarakat kepulauan tidak membutuhkan program yang hanya ramai pada saat
peluncuran, lalu menghilang beberapa bulan kemudian.
Mereka membutuhkan program yang
mampu bertahan mengikuti perubahan musim.
Program yang tetap berjalan
ketika angin berubah arah.
Program yang tetap memberi
manfaat ketika ombak sedang tinggi.
Program yang mampu menjadi
penyangga ekonomi keluarga saat laut tidak lagi dapat diandalkan.
Pengalaman inilah yang kemudian
menjadi dasar ketika saya mendampingi pengembangan bank sampah, pertanian rumah
tangga, hingga Program Integrated Waste Management (IWM).
Semuanya dirancang bukan untuk
melawan kehidupan masyarakat, melainkan untuk berjalan berdampingan dengan
kehidupan mereka.
Saya percaya bahwa pembangunan
yang berhasil bukanlah pembangunan yang memaksa masyarakat menyesuaikan diri
dengan program.
Sebaliknya, pembangunan yang
berhasil adalah ketika program mampu menyesuaikan diri dengan kehidupan
masyarakat.
Pelajaran itu tidak saya temukan
di dalam buku.
Saya menemukannya di atas
pompong yang membelah laut, di beranda rumah-rumah kayu tempat saya berbincang
hingga larut malam dengan para nelayan, dan dari wajah-wajah para ibu yang
berharap suaminya pulang dengan selamat setiap kali cuaca berubah.
Sejak saat itu saya memahami
bahwa membangun masyarakat kepulauan bukan hanya soal menyusun kegiatan.
Membangun masyarakat kepulauan
berarti memahami laut, menghormati musim, membaca budaya, dan menghadirkan
harapan baru tanpa mencabut akar kehidupan yang telah mereka warisi selama
puluhan bahkan ratusan tahun.
Itulah sebabnya setiap program
yang saya jalankan selalu saya mulai dengan satu langkah yang paling sederhana:
mendengarkan masyarakat terlebih dahulu.
Karena bagi saya, masyarakat
bukanlah objek pembangunan.
Merekalah guru yang mengajarkan
bagaimana sebuah program seharusnya dibangun.
Membangun Program Bukan Sekadar Membawa Anggaran
Setelah bertahun-tahun hidup
bersama masyarakat, saya akhirnya memahami satu kenyataan yang tidak pernah
saya pelajari di bangku kuliah.
Program yang baik belum tentu
berhasil.
Sebaliknya, program yang
sederhana justru bisa bertahan bertahun-tahun apabila dibangun dengan cara yang
benar.
Di lapangan, keberhasilan sebuah
program tidak diukur dari besarnya anggaran, banyaknya kegiatan, atau tebalnya
laporan yang disusun. Tolak ukur yang sebenarnya adalah ketika masyarakat
merasa memiliki program tersebut dan tetap menjalankannya meskipun pembawa
program telah pergi.
Itulah keberhasilan yang
sesungguhnya.
Selama mendampingi masyarakat di
berbagai desa kepulauan, saya belajar bahwa tugas seorang fasilitator bukan sekadar
menyampaikan kegiatan. Tugas kami jauh lebih besar, yaitu membangun
kepercayaan.
Kepercayaan adalah modal utama.
Tanpa kepercayaan, program
sebesar apa pun hanya akan menjadi kegiatan sesaat.
Sebaliknya, ketika masyarakat
telah percaya, program dengan anggaran yang terbatas pun mampu tumbuh menjadi
gerakan yang besar.
Saya memahami mengapa pada awal
kedatangan kami masyarakat sering bersikap dingin, bahkan terkadang menolak.
Mereka bukan tidak ingin berubah. Mereka hanya sudah terlalu sering dikecewakan.
Sebelum kami datang, sudah
banyak program yang masuk ke desa. Semuanya membawa janji yang terdengar indah.
Ada yang menjanjikan peningkatan ekonomi, kesejahteraan, bahkan perubahan besar
bagi desa. Namun ketika program selesai, para pembawanya pergi. Masyarakat
kembali menjalani kehidupan seperti semula, sementara harapan yang pernah
ditanamkan perlahan berubah menjadi kekecewaan.
Dari situlah saya belajar bahwa
masyarakat kepulauan tidak mudah percaya kepada orang baru. Mereka tidak lagi menilai
seseorang dari kata-katanya, tetapi dari konsistensinya.
Kepercayaan tidak dibangun dalam
satu kali pertemuan.
Kepercayaan dibangun melalui
kehadiran.
Melalui kesediaan duduk bersama
mereka.
Melalui kesabaran mendengarkan.
Melalui keberanian menerima
kritik.
Dan melalui bukti bahwa kita
benar-benar ingin tumbuh bersama masyarakat, bukan sekadar menyelesaikan target
program.
Kesalahan lain yang sering saya
temui adalah banyak program disusun tanpa memahami kebutuhan masyarakat.
Program datang dengan konsep yang sudah jadi, sementara masyarakat hanya
diminta mengikuti.
Padahal setiap desa memiliki
karakter yang berbeda.
Terlebih lagi di wilayah
kepulauan seperti Anambas.
Mayoritas masyarakat hidup
sebagai nelayan. Kehidupan mereka sangat dipengaruhi oleh musim, cuaca, arah
angin, dan kondisi laut. Ketika musim teduh, mereka lebih banyak berada di
laut. Ketika musim angin utara datang, mereka lebih banyak berada di darat.
Jika jadwal program tidak
menyesuaikan siklus kehidupan masyarakat, maka program akan dianggap mengganggu
mata pencaharian mereka.
Bukan karena masyarakat menolak
perubahan, tetapi karena waktu yang dipilih tidak sesuai dengan kehidupan
mereka.
Pelajaran berikutnya adalah
tentang sumber daya manusia.
Saya sering melihat sebuah
program memiliki konsep yang luar biasa, tetapi gagal karena tidak ada orang
yang mampu menjalankannya.
Program tidak cukup hanya tepat
sasaran.
Program juga harus memiliki
orang yang tepat.
Sumber daya manusia adalah
jantung dari setiap perubahan.
Karena itu, sebelum berbicara
tentang target, indikator, atau capaian, saya selalu berusaha memetakan siapa
saja yang memiliki kemauan belajar, siapa yang memiliki pengaruh di masyarakat,
siapa yang mampu menjadi contoh, dan siapa yang kelak dapat melanjutkan program
tanpa bergantung kepada fasilitator.
Inilah yang kemudian saya
terapkan dalam Program Integrated Waste Management (IWM) di Kepulauan Anambas.
Kami tidak memulai dari mesin.
Kami tidak memulai dari bangunan.
Kami memulai dari manusianya.
Kami membangun kelompok.
Kami membangun rasa memiliki.
Kami membangun kebiasaan.
Barulah setelah itu program
berkembang dengan sendirinya.
Tujuan terbesar kami bukan
menciptakan ketergantungan kepada yayasan.
Justru sebaliknya.
Keberhasilan terbesar adalah
ketika masyarakat mampu menjalankan program secara mandiri setelah kami tidak
lagi mendampingi mereka.
Itulah alasan mengapa setiap
kegiatan selalu diarahkan agar dapat diteruskan oleh masyarakat dan pemerintah
desa.
Sebab sebuah program yang hanya
hidup selama pendamping berada di lokasi bukanlah pembangunan.
Itu hanya kegiatan sementara.
Selama mendampingi masyarakat,
saya juga belajar untuk tidak takut menghadapi kritik.
Banyak orang menganggap peserta
rapat yang paling vokal, paling keras, dan paling sering menolak sebagai
penghambat.
Saya justru melihat mereka
sebagai sumber informasi yang paling berharga.
Orang yang paling keras biasanya
adalah orang yang paling banyak menyimpan kekecewaan.
Mereka pernah dijanjikan.
Mereka pernah berharap.
Mereka pernah percaya.
Lalu mereka pernah ditinggalkan.
Apabila kita mampu mendengarkan
mereka tanpa emosi, sesungguhnya mereka sedang menunjukkan di mana letak
kesalahan program-program sebelumnya.
Mereka sedang memperingatkan kita agar tidak mengulang kegagalan yang
sama.
Karena itu saya tidak pernah memusuhi para pengkritik.
Saya justru mendekati mereka.
Saya mendengarkan cerita mereka.
Saya mencari tahu mengapa mereka bersikap demikian.
Dari merekalah saya sering menemukan celah untuk memperbaiki pendekatan
program.
Di setiap desa juga selalu ada tokoh yang menjadi rujukan masyarakat.
Mungkin bukan pejabat.
Mungkin bukan orang yang memiliki jabatan formal.
Namun ucapannya didengar oleh masyarakat.
Tokoh seperti inilah yang harus
lebih dahulu kita pahami.
Selain kepala desa, mereka
sering kali menjadi jembatan penting untuk memahami budaya, kebiasaan, serta
persoalan yang tidak pernah tertulis dalam laporan resmi.
Mereka membantu kita membaca apa
yang sebenarnya dirasakan masyarakat.
Ada satu tantangan yang hampir selalu
muncul di setiap desa.
Masyarakat sering menganggap
pembawa program sebagai pemberi bantuan.
Mereka berharap setiap pertemuan
membawa uang, bantuan, atau proyek baru.
Padahal tidak semua perubahan
harus dimulai dari bantuan.
Sering kali perubahan dimulai
dari perubahan cara berpikir.
Mengubah pola pikir jauh lebih
sulit daripada membangun sebuah gedung.
Namun ketika pola pikir telah
berubah, masyarakat akan mampu membangun banyak hal dengan kekuatan mereka
sendiri.
Selama menjalankan Program IWM, saya
melihat sendiri bagaimana masyarakat tetap bertahan mengelola bank sampah
meskipun insentif yang mereka terima tidak besar.
Mereka bertahan bukan karena
nilai uangnya.
Mereka bertahan karena mereka
percaya.
Percaya bahwa lingkungan yang
bersih akan memberi kehidupan yang lebih baik.
Percaya bahwa sampah memiliki
nilai ekonomi.
Percaya bahwa apa yang mereka
lakukan hari ini adalah investasi untuk anak dan cucu mereka di masa depan.
Kepercayaan seperti itulah yang
sebenarnya menjadi fondasi pembangunan masyarakat.
Pada akhirnya saya menyadari
bahwa tidak ada rumus yang benar-benar baku dalam membangun sebuah program.
Tidak ada jalan pintas.
Tidak ada metode yang selalu
berhasil di setiap tempat.
Yang ada hanyalah pengalaman,
kesabaran, kemampuan mendengar, kemauan untuk belajar dari masyarakat, dan
keberanian untuk menyesuaikan diri dengan budaya setempat.
Bagi saya, seorang fasilitator
bukanlah orang yang datang membawa semua jawaban.
Seorang fasilitator adalah orang
yang mampu menemukan jawaban bersama masyarakat.
Itulah pelajaran terbesar yang
saya dapatkan selama bertahun-tahun hidup di tengah masyarakat kepulauan.
Dan saya percaya, selama kita
datang dengan niat yang tulus, menghargai budaya, memahami karakter masyarakat,
serta membangun kepercayaan sebelum menjalankan program, maka perubahan akan
selalu menemukan jalannya.
Mungkin tidak cepat.
Namun perubahan itu akan
bertahan jauh lebih lama daripada sekadar keberhasilan yang lahir dari sebuah
proyek.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar