kehadiran mu bencana bagiku
7/21/2012
puasa sebagai prisai

puasa adalah prisai dari api neraka,
seperti prisai seorang dari kalian dari serangan musuh
7/20/2012
spesial rhamadhan
marhaban Rhamadhan, bulan yang penuh berkah, yang di dalamnya terdapat sesuatu malam yang lebih baik dari sribu bulan. bulan yang telah Allah SWT jadikan didalamnya puasa sebagai fardhu dan shalat malamnya sebagai tathawwu. bulan yang siapa saja mendekatkan diri kepada allah SWT dengan melakukan kebajikan.
7/07/2012
7/05/2012
masadepan bersamamu seperti apa
hari ini hari yang penuh ilmu,,, dimana aku blajar melihat untuk hari depan.
bersama orang-orang yang telah berhasil terlebih dulu,, yang memberikan ku sedikit pelajaran agar aku bisa mengarah kan sedikit jalan ku, agar kedepannya aku bisa membawa bebean bersama keluarga baruku.
bersambung.....
bersama orang-orang yang telah berhasil terlebih dulu,, yang memberikan ku sedikit pelajaran agar aku bisa mengarah kan sedikit jalan ku, agar kedepannya aku bisa membawa bebean bersama keluarga baruku.
bersambung.....
Rasa cinta bukan untuk diceritakan tapi untuk dirasakan
Kota itu belum sepenuhnya tertidur, ketika deru mesin bus kota yang bersukacita di tengah jalanan yang masih sepi membangunkannya. Sesungguhnya dia tidak pernah dibiarkan benar-benar tidur karena walaupun sudah larut warga kota belum berhenti menjejalinya dengan ulah mereka yang lebih sering menjengkelkan. Bagai bocah kecil yang tidurnya diganggu dia mulai menggeliat tidak rela, mencoba membuka matanya yang masih menahan kantuk berat. Tapi terpaksa buru-buru ditutupnya kembali karena silau oleh sinar lampu jalan yang belum mati. Kabut tipis yang melingkupi seolah menyuruhnya untuk kembali menarik selimut.
Dia masih mau melanjutkan mimpinya kalau saja Bapak-bapak, ibu-ibu, karyawan-karyawati dan anak-anak bereseragam sekolah tidak memenuhi jalan-jalannya dengan aktivitas mereka masing-masing. Yang disusul kemudian dengan derit pintu-pintu toko yang mulai dibuka. Orang-orang bersileweran kesana kemari. Maka kota itu tidak punya kuasa lagi untuk menahan berlangsungnya rutinitas yang membosankan. Dengan sangat terpaksa dia harus membiarkan tidurnya digerogoti hari per hari sampai ia tidak sadar lagi pada perputaran waktu.
Begitu juga dengan lelaki separuh baya yang lagi menyisir kota dengan opeletnya, dua puluh tahun lebih dia telah menjadi bagian dari rutinitas itu. Dia tidak tahu atau tepatnya belum pernah menyadari apakah dia senang menjadi bagian dari rutinitas itu atau hanya karena terpaksa terlibat di dalamnya. Putaran waktu tidak lebih dari peristiwa yang melemparkannya pada titik yang sama dalam jam yang sama selama beberapa tahun ini. Sehingga dia berkesimpulan tidak ada yang berubah dalam rutinitas keseharian manusia selain caranya yang berbeda dari waktu ke waktu.
Apakah itu karena rasa cintanya pada kota ini? Lelaki itu merasa aneh dengan pertanyaan yang tiba-tiba muncul di hatinya. Mengapa baru pagi ini pertanyaan itu datang padahal sudah dua puluh tahun lebih dia menghabiskan sejarahnya bersama kota ini. Perlukah pertanyaan itudijawab? Pikir lelaki itu dibelakang kemudi angkot yang dikenderainya.
Aku sudah beranak pinak di kota ini dengan istri penduduk asli kota ini. Aku memang pendatang disini. Tapi siapa yang bisa menyangkal bahwa aku jauh lebih hapal meter demi meter tanah kota ini dari pada jengkal demi jengkel tanah kota kelahiranku. Karena umur sebelas tahun kota kelahiranku di ujung pulau Sumatera sana telah mengendap jadi kenangan yang tidak mudah diungkapkan lagi baik dalam bentuk cerita sekalipun.
Rasa cinta bukan untuk diceritakan tapi untuk dirasakan!
Ya…aku rasakan rasa cintaku mengalir di kota ini.
Untuk siapa? Lelaki itu tidak dapat menjawab dengan cepat pertanyaan yang susul menyusul di hatinya. Ada nyanyian keraguan memukul-mukul di dadanya. Dia biarkan bawah sadarnya menampilkan diri apa adanya untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan itu…
” Akhirnya kamu pulang juga, anakku!” jerit perempuan tua itu menghambur memeluknya setelah beberapa menit terlewat dalam kebekuan saat dia tujuh tahun yang lalu berdiri di ambang pintu rumah kelahirannya setelah tiga puluh tahun menghilang. Pelukan perempuan tua yang tak lain adalah ibunya itu mengalirkan rasa damai yang tidak bisa dia gambarkan dengan kata-kata ke dalam sanubarinya. Rasa damai yang tidak dia temukan dalam tahun-tahun pengembaraannya di rantau orang. Rasanya dia tidak ingin lagi berpisah dengan rasa damai itu. Dia tidak sanggup bicara. Usapan tangan serta air mata ibunya dan air matanya yang tumpah sudah lebih banyak bicara dari segudang kata-kata.
Setelah kepulangannya itu dan dia kembali lagi ke kota perantauannya, dia merasakan ada perasaan yang tidak dapat dia mengerti dan tidak bisa dia kendalikan untuk selalu mengingat rumah kelahirannya serta tubuh renta ibunya. Awalnya dia mengira itu perasaan yang wajar saja setelah sekian tahun hubungannya terputus dengan tanah kelahirannya. Tapi ternyata semakin hari perasaan itu bukannya menghilang tapi semakin berkembang menjadi suatu dorongan yang kuat dan suara-suara di dalam hatinya yang menyuruh,” Pulang! Pulang! Pulang…!”
Suara itu tindih menindih dengan pertimbangan akal sehatnya. Bagaimana mungkin itu aku lakukan di saat usiaku sudah menjelang senja? Bagaimana mungkin aku meninggalkan semua rutinitasku yang telah berkarat di kota ini? Bagaimana aku mau membiayai istri dan lima anakku bila nanti di kota kelahiranku semuanya harus dimulai dari awal lagi? Tidak mungkin!
Sepagi ini, disaat jam-jam ramai penumpang lelaki itu terpaksa meladeni pertanyaan yang lahir dari keresahan yang mendesak hari-harinya sejak kepulangannya tujuh tahun yang lalu. Dan hari ini dia sudah pasrah untuk membiarkan semua pertanyaan itu mengalir melewati pintu yang selama ini berusaha selalu dia tutup. Setelah berputar satu rit melayani penumpang lelaki itu menghentikan opeletnya di sudut terminal untuk buka bayar melayani kecamuk di batinnya.
Masih adakah makna kata ‘Pulang’ buat dirinya yang sudah puluhan tahun merambahi tanah-tanah asing yang jauh dari tanah tempat dia dilahirkan. Bukankah setelah puluhan tahun dia tinggalkan, tanah kelahiran itu justru telah menjadi asing baginya dan sangat aneh bila sekarang harus pulang lagi kesana.
Jauh sebelum kepulangannya tujuh tahun yang lalu, dia sudah dapat menanamkan keyakinan dalam dirinya bahwa semua tempat di muka bumi sama saja. Soal kita lahir di suatu tempat tertentu itu masalah alami, suatu proses yang bisa terjadi dimana saja.
Ah…apa yang memberati pikiranku sekarang cuma romantisme usang mengenai kampung halaman, kekenesan perantau yang tidak berhasil menggapai apa yang dicita-citakannya. Tepis lelaki itu tersenyum. Tapi hanya sesaat ketika suara dalam hatinya kembali bertanya, ” Romantisme usangkah jika tujuh tahun ini harimu-harimu tidak bisa lepas dari mimpi tentang kampung halaman tentang ibumu?”
Lelaki itu terhenyak, semakin terpilin-pilin dalam ketidak mengertian. Ada rasa yang menggamak-gamak jauh di dasar sanubarinya yang susah untuk dia mengerti. Pikirannya mencoba mencari argumen lain. Apakah masalah akan seruwet ini jika aku bukan hanya seorang pemilik sekaligus sopir opelet tua? Misalnya kalau aku seorang pengusaha sukses atau direktur sebuah perusahaan atau seorang pejabat yang mengepalai sebuah kantor dimana materi tidak menjadi faktor pembatas lagi. Aku bisa pulang setiap saat atau ibuku bisa berkunjung setiap waktu kalau dia susah untuk mau tinggal bersamaku. Lelaki itu hanya tersenyum getir saat dia merasa menemukan setitik cahaya penerang walaupun belum mampu mengusir semua galau yang mendera sukmanya.
Ini bukan persoalan materi? Bantah batinnya lagi. Rasa pahit tiba-tiba menggelanyar mulutnya, kecut. Dia raih bungkus rokok dekat kemudi dikeluarkannya sebatang dan menaruh di mulutnya. Mengeluarkan pemantik dari kantong bajunya kemudian menghidupkannya untuk menyundut rokok. Saat api pemantik sudah mau menyentuh ujung rokok lelaki itu teringat batuk yang sering mengganggunya akhir-akhir ini. Dia urung merokok.
” Jangan-jangan keresahanku ini karena aku sudah….” Dia tidak berani melanjutkannya. Cepat-cepat dia putar kunci kontak untuk menghidupkan opelet dan langsung tancap gas membuang pikiran buruk yang bukan haknya untuk menentukan terjadinya sambil mulutnya bergumam,
Langganan:
Postingan (Atom)

