Manajemen Pada Industri Tempe
Di susun oleh :
Rahmat Hidayat
Okto A Damanik
Theovillus Wartama A.D
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Kedelai merupakan bahan baku utama pengolahan pangan seperti tahu, tempe, kecap dan lain-lain. Konsumsi bahan pangan yang berasal dari kacang-kacangan khususnya kedalai di Indonesia merupakan tantangan serius untuk mempertahankan kelangsungan pengembangan produksi agar mencapai swasembada komoditas tersebut.
Tempe merupakan sumber protein tinggi yang harga per satuan unit lebih murah apabila dibandingkan dengan sumber protein asal hewani seperti daging, susu dan telur. Harganya juga relatif murah, proses pembuatannya sederhana dan mudah, kandungan gizinya pun cukup tinggi.
Rumusan masalah
Industri pembuatan tempe merupakan salah satu usaha yang cukup baik hampir sebagian besar penduduk mengonsumsi makanan ini. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya warung makanan olahan dari tempe. Sehingga industri tersebut selain dapat memenuhi kebutuhan para konsumen juga dapat memberi keuntungan bagi pemilik industri. Namun banyak industri pembuatan tempe yang proses manajamennya belum terstruktur dengan baik.
Proses manajamen merupakan daur beberapa gugusan kegiatan dasar yang berhubungan secara integral, yang dilaksanakan didalam manajamen secara umum yaitu proses perencanaan, proses pengorganisasian, proses pengarahan dan proses pengawasan dalam rangka mencapai suatu tujuan secara ekonomis. Jika proses manajamen dilakukan dengan baik maka sebuah industri dapat terstruktur dengan baik dan begitu sebaliknya untung dan rugi.
Delapan prinsip manajemen pada industri tempe
1.Costumer Focus
Dalam industri tempe disini harus diperhatikan kebutuhan konsumen pada pasar agar mencapai target produksi yang maksimal sehingga tidak banyak mengalami kerugian yang disebabkan oleh penolakan-penolakan produk tempe yang sudah dipasarkan ditolak kembali oleh konsumen.
2. Leadership
Dapat mengarahkan dan mempengaruhi aktivitas yang berkaitan dengan pekerjaan dari anggota kelompok atau seluruh organisasi. Mengarahkan, mempengaruhi, dan memotivasi karyawan untuk melaksanakan tugas yang penting.
Pada Industri tempe harus saling terikat dengan satu pemimpin berupa produsen yang terbesar. Tujuannya agar tidak terjadi kesalahan-kesalahan pada pembuatan maupun pemasaran, sehingga walaupun banyak pemasaran tapi hanya memegang satu komitmen yang dimana telah di handel oleh pemimpin pada industri tempe tersebut.
3. Keterlibatan semua orang/personel
Proses mengatur dan mengalokasikan pekerjaan, wewenang, dan sumber daya di antara anggota organisasi, sehingga mereka dapat mencapai sasaran organisasi. Ketelibatan semua personel yang berperan pada industri tempe semua harus bisa bekerja dengan baik dan membangun kerjasama yang baik agar menghasilkan kerja yang optimal.
4. Pendekatan Proses
pengelolaan ataupun proses harus dikontrol, dimana semua organisasi harus dibawah wewenang pemimpin demi tercapainya tujuan yang telah ditetapkan oleh industri.
fungsi manajemen yang berupa mengadakan penilaian, bila perlu mengadakan koreksi di setiap organisasi sehingga apa yang dilakukan dapat diarahkan ke jalan yang benar dengan maksud tercapai tujuan yang sudah digariskan semula. Pada industri tempe , pimpinan sering kali ikut serta baik dalam proses produksi sampai dengan pemasaran. Pimpinan melakukan hal ini agar keuntungan industri dan kepuasan konsumen bisa terpenuhi.
5. Pendekatan system ke manajemen/ pengelolaan
Untuk meningkatkan pendapatan pada industri diperlukan adanya perbaikan dalam hal sistem manajemen. Mulai dari perencanaan, organisasi, pelaksanaan dan pengawasan harus baik agar tidak mengalami kendala. Proses yang terlaksana pada semua organisasi ditekankan sesuai prosedur kerja agar semua kesalahan-kesalahan pengelolaan dapat dihindari sehingga untuk terjadinya kerugian pada industri sangat minim.
Bagian produksi menangani pembuatan tempe secara keseluruhan dari awal hingga akhir proses produksi sampai pada proses pengamasan.
Bagian pemasaran bertugas memperkenalkan produk tempe, merekrut penlanggan baru, serta mengumpulkan informasi mengenai kondisi pasar dan keadaan para pesaing.
6. Perbaikan berkelanjutan
Dilakukan perubahan padasistem organisasi yang kurang berjalan dengan baik sehingga menghasilkan produk yang kurang baik.Sehingga diperlukan rencana menejemen dengan banyak tujuan:
Tujuan pertama adalah untuk memberikan pengarahan baik untuk manajer maupun karyawan nonmanajerial. Dengan rencana, karyawan dapat mengetahui apa yang harus mereka capai, dengan siapa mereka harus bekerja sama, dan apa yang harus dilakukan untuk mencapai tujuan organisasi. Tanpa rencana, departemen dan individual mungkin akan bekerja sendiri-sendiri secara serampangan, sehingga kerja organisasi kurang efesien.
7. Pendekatan Fakta sebagai Dasar Pengambilan Keputusan.
Setiap tindakan dan kebijakan yang diambil oleh semua orgaisasi harus disertai dengan bukti. Contohnya pada penambahan Tenaga kerja, Modal, Metode yang berfunsi sebagai alat untuk mencapai tujuan, Mesin, Bahan baku, Pasar.
Manajer memikirkan dengan matang terlebih dahulu sasaran dan tindakan serta tindakan mereka berdasarkan metode, rencana, atau logika dan bukan berdasarkan perasaan.
8. Kerjasama yang saling menguntungkan dengan pemasok
Pada industri harus membangun kerjasama yang baik, dan membuat satu prinsip dan tujuan yang satu dimana tidak saling menjatuhkan melainkan saling menguntungkan dan saling mendukung. Contohnya pada industri tempe antaralain : pemasok bahan baku kedelai dan penghasil produk tempe.
Persediaan bahan baku memegang peranan yang sangat penting dalam menjamin proses produksi suatu perusahaan dapat belangsung secara berkesinambungan. Bahan mentah dan bahan pembantu sangat penting dalam proses manajemen, karena tanpa itu kegiatan perusahaan tidak akan berjalan dengan baik atau bahkan akan terhenti.
SEKIAN DAN TERIMAKASIH
Tidak ada komentar:
Posting Komentar